<< September 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:






Wednesday, July 30, 2008
Calon Presiden Itu

Calon Presiden Itu
Musim kampanye sudah dimulai. Saya membacanya di surat kabar dan mendengarnya juga dari siaran berita di televisi. Di luar sana saya menyaksikan umbul-umbul dan gambar-gambar lambang partai dipasang tidak teratur. Foto-foto mereka yang merasa pantas dan bisa memimpin republik ini mengotori sisi-sisi jalan di kota ini dan di kota itu. Kata teman saya yang bekerja di advertising agency harga pemasangan baliho di sekitar Semanggi itu tidak kurang dari lima milyar per tahun, jadi kita bisa menaksir dengan mudah seberapa banyak uang yang dimiliki manusia berkumis tebal itu untuk memasang wajahnya di sana. Belanja iklan itu masih ditambah dengan iklan tv yang ditayangkan secara teratur belakangan ini dan menurut abang kumisnya itu, iklan itu akan berseri. 'Saya ingin menyadarkan publik bahwa founding fathers negara ini adalah anak muda', Intinya dia ingin mengatakan bahwa dirinya adalah personifikasi bapak bangsa yang dulu ikut memerdekakan republk ini. Sebagai satu ikhtiar untuk mengembangkan image atau citra, boleh lah dia berkata demikian, meskipun saya sebagai pemirsa setiap kali melihat baliho itu dan menyaksikan iklannya di televisi, semakin ragu bahwa ia cukup tulus punya niat baik memimpin rakyat negara ini.

Dia sepertinya hanya ingat tentang dirinya dan apa yang diinginkannya. Menurut pengamatan saya saat menyaksikan ia duduk dengan jas dan kemeja tak berdasi di ruang tamu sebuah acara talkshow di TV Baru, ia tampak memposisikan dirinya sebagai sang kandidat dan audiens sebagai pemilih dan dengan alasan itu ia berbicara dengan aksen yang telah dilatih dengan script yang telah dihapalnya dengan mimik yang sudah diatur di muka cermin untuk berkomunikasi monolog. Ikhtiarnya itu mungkin membawa hasil. Persoalannya adalah komunikasi politik adalah komunikasi dengan citra, substansi tidak akan terlalu diingat. Contohnya saya. Setelah acara itu berakhir tidak banyak yang saya ingat dari apa yang diucapkannya, tapi saya ingat penampilan fisiknya dan suara baritonnya itu.

Bagaimanapun, itu adalah perasaan yang sifatnya sama sekali subyektif. Saya tidak mengenal abang kumis itu, meski saya pernah bercakap-cakap dengannya beberapa tahun lalu kantornya di Menteng, Jakarta. Rasanya, dari percakapan yang berlangsung kurang lebih satu jam itu saya merasa bahwa yang bersangkutan adalah manusia yang berjarak dengan realitas  masyarakat kebanyakan. Ia pernah memuat  iklan dukungan terhadap kenaikan BBM dengan mengajak sejawat dan kerabatnya yang satu ide dengannya. Iklan itu dimuat 26 Februari 2005 di surat kabar Kompas dan sontak menuai protes. Tapi, ia bergeming, 'Mendukung Pemerintah yang berkuasa itu tidak salah', Kurang lebih begitu ia bertamsil. Mungkin tidak salah, tapi tidak peka. Mungkin ia tidak merasakan kesulitan keuangan, kini, karena ia ada di level status sosial yang aman dari gangguan remeh temeh kenaikan BBM. Baginya kenaikan BBM adalah riak kecil di dapur rumahnya. Baginya kenaikan BBM adalah instrumen untuk mempertahankan kekuasaan dan iman politiknya. Meski pernyataan nya didukung oleh serat abu-abu yang tumbuh subur di dalam kepalanya, tetapi rupanya itu tidak pernah cukup untuk bisa menjangkau  nurani publik yang menjerit dengan kebijakan yang ia dukung dengan tidak murah.

Lalu pemimpin seperti apakah yang nuraninya tidak menjadi panglima dalam dirinya ?

Nurani ? Ingat, ini adalah iklan. Rasanya sulit mengukur nurani di dalam iklan. Iklan bukan instrumen pendidikan, menurut Budiman Hakim dan tampaknya ia benar.

Posted at 01:11 am by husnayan
Comments (3)  

Thursday, July 10, 2008
I believe in Capitalism

‘I believe in capitalism’, ujar Boss saya yang ganteng itu seraja teunjukknya menekan meja di hadapannya, matanya lekat menatap kedua tamu Amerika yang ada di depannya yang tampak sungguh-sungguh menyimak penuturannya. ‘Capitalism create competition, competition makes perfect, makes people think more creative, produce better product even cheaper’, Seraya menyenderkan punggungnya di kursi emput yang didudukinya, ia mengakhiri penuturannya dan seperti seorang dosen sosiologi yang baru menyelesaikan kuliahnya, si Boss tampak siap-siap menunggu pertanyaan menyusul topic yang disampaikannya. Kedua tamu Amerikannya berdiskusi diantara mereka. Si Boss menyesap teh panasnya. Lingkaran hitam di sekitar kelopak matanya semakin tegas dari hari ke hari, ‘Gila, gua pindah dari meeting ke meeting hari ini. Gua gak kerja’, Keluhnya saat berkendara tadi menuju pertemuan ini. ‘Istirahat gua kurang, tidurnya sedikit, gua gak sempet olah raga. Badan gua sakit-sakit’, Si Boss mengaku setiap hari dia melahap lebih dari 5 km lagi pagi. Kurang dari itu ia bisa sakit. Kebiasaanya itu mengingatkan saya akan tokoh Cicero di novel Imperium yang baru habis dibaca kemarin malam. Cicero mengawali harinya dengan melakukan senam pagi untuk memulai hari kerjanya yang berakhir seringkali setelah lewat tengah malam.

Malam itu kita dijamu perusahan aplikasi mobile. Sepertinya bukan perusahaan besar. Tapi, baru-baru ini satu perusahaan chipset yang bermarkas di San Diego membeli sahamnya setelah perusahaan aplikasi mobile tadi berhasil men-develop aplikasi mobile yang akan dinamain Voice Message Service, ‘People keep saying our product voice mail, but actually this is not voice mail. It’s different’, Ujarnya, tanpa menyembunyikan kekesalan yang dirasakannya. Bule yang tampak sabar dan ramah itu bertutur bahwa ia sudah sepuluh hari berada di Jakarta. Mengunjungi operator telepon seluler yang ada. Menawarkan produknya kepada mereka dan kini mereka tengah dalam tahap pembicaraan serius dengan salah satu operator yang tidak terlalu besar namun relative tumbuh terus pasarnya, ‘You cannot go with them. Your product won’t reach it’s viral stage’, si Boss memberi saran. Ia percaya VMS akan menjadi the next big thing setelah SMS yang diramalkan akan segera mencapai akhir kejayaannya. Tapi, s boss menegaskan bahwa produk itu bisa tidak menyentuh pasarnya di sini, meski produk itu hebat, bila tamunya salah memilih partner. 'I can arrange a meeting with a media baron. He has national tv stations here. Couple newspapaer and several radio stations as well. He owns an operator company too. If you deal with him your product will reach it viral stage and people will adopt it. Especially when the marketing strategy involves some celebrities or other public figure who will generate people to react positively to your product', Kedua tamu itu tampak tertarik. Si Boss menanyakan kapan kedua tamu itu akan meninggalkan Jakarta. Kedua tamunya menjawab bahwa malam itu adalah malam terakhir mereka di Jakarta. Besok pagi mereka akan terbang ke Bangladesh untuk menjajakan produk mereka, 'There are 30 countries recently who adopt our product on their values added service platform', Ujar si bule itu dengan wajah datar, 'We hope Indonesia would be the next country. We believe our product would fulfil people needs', Si Boss mengangguk-anggukan kepala seraya mengetuk-ngetukkan kartu nama tamunya ke permukaan meja.

Industri aplikasi mobile memang tengah booming. Seorang teman yang bekerja di sebuah perusahaan content provider lokal bercerita bahwa kantornya setiap bulan ber-billing lebih dari Rp 4 milyar dari satu operator telekomunikasi saja. Jualannya adalah aplikasi games yang diecer dengan harga mulai Rp 5 ribu per sekali download. Sebagian aplikasi games itu dibelinya dari luar negeri, sebagian kecil lainnya dibeli dari developer games lokal. 'Saat ini mobile pelan namun pasti menggeser perilaku audiens dari laptop atau komputer minded ke handphone minded. Gua aja lebih sering periksa e-mail, akses website dari handset gua, bukan dari laptop gua. Lebih gambang dan sekarang semakin murah'.

Media memasuki era yang tidak sekadar digital, tetapi juga mobile. Pada titik ini media sebagai binatang industri mendapatkan fajar barunya. Tidak banyak orang seperti boss saya itu yang punya dana dan fasilitas untuk akses internet melalui handset-nya. Media adalah produk budaya yang awalnya selalu tidak bersifat masive. Jika dulu media cetak ketika pertama terbit hanya bisa dinikmati oleh mereka yang melek huruf, yang berarti juga berpendidikan cukup dan punya duit untuk membelinya, maka saat ini fenomena yang mirip pun.  Media digital mobile baru bisa dinikmati oleh mereka yang punya duit, berpendidikan cukup dan super sibuk. Meski untuk soal berpendidikan menjadi hal yang questionable. Pasalnya media digital di-create sedemikian rupa sehingga sangat mudah untuk dioperasikan oleh siapapun dan hampir dalam tahap pendidikan manapun, selama yang bersangkutan bisa membaca.

Balik lagi ke perkara kapitalisme dan tentang boss saya itu. Aplikasi yang dibawa kedua tamu bule itu relatif sulit untuk dipasarkan. Aplikasi mereka harus didukung handset yang lumayan canggih. Harga handset seperti itu masih di atas dua juta rupiah.


Posted at 02:00 pm by husnayan
Comment (1)  

Saturday, July 05, 2008
Pak Bambang

Usianya sudah lebih dari 70 tahun. Tetapi, semangatnya tidak berubah. Masih enerjik. Ingatannya rinci. Termasuk untuk hal-hal kecil, 'Saya masih ingat, waktu itu kamu telpon menanyakan apakah Budinya ada, tentu saja saya jawab tidak ada ada karena memang tidak ada yang namanya Budinya di sini, kalau Budi ada', tuturnya sambil tertawa. Kita mendengar kembali cerita yang sudah berusia lebih dari satu dekade di kediamannya suatu sore. Setelah sempat ragu untuk mengunjunginya akhirnya kita putuskan untuk mencoba menemukan kediaman Pak Bambang Hidayat di Kompleks Perumahan ITB di Bengkok, Dago, Bandung Utara. Tidak terlalu sulit menemukan kediamannya. Meski kita tidak tahu alamat pastinya, tetapi hanya dengan menanyakan ke tukang ojek yang tengah mangkal kita diberi petunjuk pasti ke mana mesti mengarah. Butuh satu lagi bertanya untuk memastikan yang mana kediaman Pak Bambang sebelum kita akhirnya merasa yakin setelah melihat kursi rotan yang biasa kita duduki kalau bertamu ke rumah Budi di Kompleks observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung.

Sore itu Pak Bambang tampak kaget melihat kedatangan kita. Kita memang agak lancang datang tanpa pemberitahuan. Sebetulnya ikhtiar untuk mengabari kalau kita akan bertama sudah ditempuh, tetapi telpon rumah Pak Bambang yang kita hubungi tidak menjawab.

Beliau menanyakan kabar kita masing-masing. Tempat kita bekerja, keluarga kita dan kesibukan kita selama ini. Obrolan selanjutnya adalah tentang beliau. Ada yang tidak saya lupakan apa yang beliau sampaikan, sedikit kekecewaan ketika pada acara peringatah 70 tahun usia beliau di ITB tahun 2004 lalu, 'Saya agak kecewa karena tidak satupun anak-anal yang bisa hadir. Budi di Denmark dan Ari masih di Jerman', matanya menerawang. Kita merasa atmosfir kesedihan itu di udara. Topik berganti, beliau berbicara tentang kesehatan. Pak Bambang mencatat dengan rapi setiap kali ia mengunjungi dokter. Tidak hanya itu beliau juga mencatat obat-obatan yang ia konsumsi lengkap dengan dosisnya, 'Saya sudah kumpulkan delapan julid buku seperti ini', Seraya menunjukkan buku-buku itu di atas meja. Buku catatan yang rapi dengan ketelitian astronomis. Beliau mencatat tidak hanya jenis obat dan konsul dokter berikut hasil lab-nya, tetapi juga komentar-komentar para dokter itu tentang kondisi kesehatannya. Diam-diam saya iri.

Obrolan segera berpindah. Kali ini tentang rumahnya. Ada banyak kamar kosong di rumah itu, 'Saya tinggal sendiri. Kalau ada mahasiswa mau tinggal di sini menemani saya, silakan saja', Ujarnya. Dibandingkan dengan rumah dinasnya di kompleks Observatorium Bosscha rumah beliau ini tampak begitu kompak. Selain udara di Dago Bengkok yang lebih gerah dibandingkan dengan di Lembang, atmosfir rumah  terasa sama.    

Rasanya saya harus lebih sering jumpa dengan Pak Bambang.

Posted at 04:02 pm by husnayan
Comment (1)  

Tuesday, April 29, 2008
Pahlawan itu

Media internasional menulisnya sebagai pahlawan. Salah satu dari Pahlawan Asia abad 20. Penggemarnya memujanya sebagai manusia setengah dewa atau bahkan mungkin dewa itu sndiri. Sebagian menginginkannya ia sebagai Presiden, tetapi tampaknya ia tidak tertarik atau mungkin tahu diri bahwa jabatan publik itu tidak untuk seniman seperti dirinya. Sepertinya ia lebih tertarik menggaruk gitarnya seraya menyanyikan lagu-lagunyanya dengan suara serak khasnya, kadang lirih, kadang berteriak. kadang getir, tapi kadang juga garang. Ia bernyanyi di atas panggung atau di halaman belakang rumahnya yang lebih luas dari lapangan sepabola. Disaksikan banyak orang, disaksikan lebih banyak orang, Dielu-elukan dan diberi applause panjang. Dulu dan juga sekarang.

Dulu rambutnya gondrong, kumisnya lebat tak beraturan dan dengan telanjang dada ia mengacungkan telunjuk jarinya ke arah langit seraya berteriak lantang menyuarakan apa yang dianggapnya mengganggu kestabilan sosialnya. Ditudingnya  pemerintah lalai, dicaci makinya wakil rakyat yang tidur di ruang sidang dan dinyanyikannya balada rakyat yang tertindas, tergusur dan teraniaya. Mewakili suara mereka, menyeimbangkan jiwanya yang terusik.

Tapi, kini ia berbeda.

Saya menemuinya beberapa kali sepanjang bulan ini, ia tampak seperti singa tua. Sinar matanya sedikit redup. Tampaknya ia sudah lama tidak mengaum. Mungkin jiwanya sudah seimbang kini dan lagu-lagunyapun tidak lagi galak. Tidak lagi menggonggong kepada pemerintah atau sesuatu yang disebutnya penguasa. Bukan karena penguasa hari ini tidak membeli pesawat tempur, bukan karena penguasa hari ini tidak menaikkan harga BBM yang menyebabkan rakyat kecil sulit membeli susu untuk anak-anaknya, tapi, mungkin, karena hal lain. Kini lagu-lagunya seperti kucing rumah, mengeong. Lembut seperti bulu si manis. Sedap mengelus-elus kuping anak muda masa kini yang tidak pernah membaca novel Topaz : Sang Guru. Lagu-lagu yang ditulis anak muda yang juga bintang seperti dirinya. Pendeknya Sang Pahlawan bukan lagi anak nakal yang orde penguasa ingin menjewer kupingnya agar ia diam. Sang Pahlawan hari ini adalah penyanyi lagu pop yang berdendang untuk menambah luas tanah tempat tinggalnya karena 'saya ingin membuat kerajaan kecil yang sesuai dengan nurani saya', tuturnya suatu sore di ruang tamunya yang luas dan apik dan bernyanyi untuk 'ada limapuluh orang bekerja mengurusi tanah ini dan setiap dari mereka butuh makan, seperti juga saya', ujarnya masygul.

Tapi, meski mengeong ia masih macan panggung. Namanya masih diteriakkan oleh fans fanatiknya dengan semangat yang lebih besar dari semangat perjuangan '45. Tapi, kini suaranya lirih saja. Menyanyikan bait-bait cinta kepada kekasih dan gadis pujaan. Tidak menyuarakan jeritan rakyat yang rumahnya dibongkar paksa, tapi merapal syahdu rintihan seorang pemuda yang pacarnya lari dengan laki-laki lain. Tidak tentang anak kecil yang kuyup berjualan surat kabar di persimpangan ramai, tapi tentang ketegaran dan kemegahan seorang gadis yang membuat perjaka jatuh hati setengah mati dan setengah mati pula patah hati karena perempuan itu lari.

Mungkin macan di dalam dirinya telah lupa bagaimana dulu ia mengaum.


Posted at 06:53 pm by husnayan
Comments (2)  

Tuesday, April 08, 2008
No Country for Old Men

Itu adalah judul novel yang ditulis oleh Cormac McCarthy. Saya membeli novel itu di toko buku Toga Mas di Bandung Desember tahun lalu. Tentu saja itu adalah novel terjemahan dan penterjemahnya lumayan kurang begitu baik melaksanakan pekerjaannya. Saya membayangkan kalau novel itu diterjemahkan oleh Gramedia atau Serambi atau Mizan mungkin hasilnya akan lebih oke dan saya akan lebih menikmati cerita yang disajikan tentang Sherif tua dan penjahat jagoan yang nyaris tidak sekalipun bersinggungan di dalam ceritanya.

Tapi, meski kualitas terjemahannya kurang oke, saya sukses menamatkannya. Saya cukup gembira dengan itu.Tidak lama setelah saya tamat membaca novelnya  film No Country for Old Men beredar. Saya penasaran ingin menyaksikan film yang dibintangi Tommy Lee Jones itu. Saya terkesima menyaksikan aksi Tommy di film Fugitive dan U.S Marchall. Kedua film itu berulang ulang saya saksikan. Meski adegan dan dialognya saya sudah mulai hapal sebagai akibatnya. Sedikit banyak saya berharap bahwa No Country for Old Men akan menampilkan aksi kakek Tommy yang kira-kira sama setara lah dengan kedua film pendahulunya itu. Apalagi seperti perannya di Fugitive dan U.S Marshall di film ini pun Tommy Lee Jones berperan sebagai penegak hukum.

Jujur, itu adalah harapan yang terlalu dipaksakan. Karena berdasarkan novelnya, tidak ada adegan-adegan seperti yang pernah disajikan di dalam Fugitive ataupun U.S Marshall.

Sebagai catatan film No Country for Old Men mendapatkan empat Oscar termasuk di dalamnya Oscar untuk kategori film terbaik. 'Mestinya ini film yang luar biasa enak ditonton seperti Forest Gump, Dancing With Wolves, Gladiator atau Crash!', Demikian saya menggumam dan saya pun duduk manis bersiap-siap menyaksikan aksi Tomm Lee Jones yang tampak semakin tua.

Film dibuka dengan pemandangan savana dan Josh Brolin yang berperan sebagai Llewelyn Moss tengah membidik binatang sejenis rusa yang tengah merumput. Setiap frame yang ditampilkan pada pembukaan film nyaris sama dan sebangun dengan apa yang di lukiskan di halaman demi halaman novelnya. Saya lumayan terkejut sekaligus kagum dengan itu. Sebegitu persis penuturan di novel diwujudkan ke dalam bentu gambar dan suara hingg saya merasa itu seperti copy-paste dari scritp ke dalam story board dan kemudian di-eksekusi pengembilan gambarnya dan hal ini berlangsung sepanjang film. Setiap penggantian frame, setiap dialog yang dituturkan nyaris seperti membaca ulang halaman-halaman cerita di dalam novelnya. Tampaknya Coen bersaudara, Ethan dan Joe, begitu hati-hati dan setia dengan apa yang sudah ditulis McCormack. Sepertinya kesucian dan kemurnian cerita tidak boleh dinodai oleh tangan dan pikiran kreatif mereka.

Lalu apa akibatnya ? Saya jadi mengantuk. Menyaksikan gambar-gambar film itu rasanya seperti membaca ulang novelnya.

Minggu lalu saya mendengar percakapan tiga orang tentang film ini. Saya tidak sengaja menguping. Ketiga orang itu rupanya belum atau tidak membaca novel No Country for Old Men, mereka menyaksikan filmnya dengan harapan akan terhibur dengan adegan aksi kejar-kejaran dan tembak-tembakkan dan mereka kecewa setelah menyaksikan bahwa Tommy Lee Jones tidak sekalipun menembakkan pistolnya meski ia, paling tidak, mengeluarkan pistolnya dari sarungnya sebanyak tiga kali. Gerutuan mereka dipungkas dengan ketidakjelasan apakah Anton Chigurh,  sang bromocorah di film, itu akhirnya mati ataukah selamat dengan tangan patah setelah mobil pick-up-nya bertabrakan dengan sedan Buick.

No Country for Old Men bukan satu-satunyta dalam hal memutus ekspetasi pecandu film. Tahun lalu di-release fim dengan judul Lions for Lambs. Film itu diproduseri oleh Paula Wagner dan Tom Cruise serta disutradarai oleh Robert Redford. Wagner dan Cruise sebelumnya memproduksi Mission Impossible III yang disutradarai JJ Abrams dan juga dibintangiTom Cruise. Saya menyaksikan juga film itu dengan boss saya yang ganteng itu. And you know what  ? Sepanjang film Tom Cruise yang adalah juga Ethan Hawke di serial Mission Impossible tidak melakukan apa-apa selain bicara. Satu-satunya adegan action yang ia lakukan hanyalah melompat dari tempat duduknya ketika ia menegaskan maksudnya kepada reporter senior yang mewawancarainya (Merryl Streep). Padahal film itu bertabur bintang aksi selain Cruise dan Streep, Robert Redford turut berperan sebagai Professor Stephen Malley kemudian Michale Pena, Derek Luke dan Andrew Garfield. Meski di film ini ada adegan tembak-tembakan yang lumayan mengejutkan, tapi harapan penonton untuk menyaksikan Tom Cruise atau Robert Redford jumpalitan dan beraksi kebut-kebutan tidak terpenuhi.

Mungkin ini adalah fenomena baru di Hollywood ketika jagoan-jagoan di layar lebar itu diberi peran lain yang sama sekali tidak mirip dengan citra mereka sebagai bintang film action yang selama ini dibangun. Mungkin maksudnya baik bahwa bintang film action  itu tidak hanya mengandalkan tampang ganteng dan skenario gebuk-gebukklan untuk tampil menarik. Tetapi, mereka memang punya cukup bakat untuk tetap tetap enak dilihat ketika mereka hanya beraksi dengan cara berdialog.

Tapi, apapun itu. Citra yang sudah terbentuk sekian lama tidak akan mudah terhapus. Penonton tetap punya ekspektasi yang sepertinya sudah final dengan peran apa yang seharusnya dilakukan oleh bintan pujaannya.

Posted at 01:12 pm by husnayan
Make a comment  

Tuesday, March 25, 2008
Wimar is Back, This Time is For Real, Really ?

Itu yang diucapkan Wimar pada episode perdananya kemarin pagi di antv. Tapi, benarkan Wimar is back for real ? Saya tidak yakin. Tapi, saya menyempatkan duduk di depan pesawat televisi. Selama setengah jam saya mencoba menikmati perayaan kembalinya Perspektif Wimar. Ada segment sekitar 30 detik di dalam acara itu yang mengkisahkan perjalanan Wimar sejak dari Perspektif di SCTV (Sekitar tahun 1993), Selayang Pandang di Indosiar (1997), yang kedua acara itu dibunuh oleh rezim Orde Baru, hingga acara Wimar terakhir di JakTV . Hampir tepat setelah berakhirnya 'kaleidoskop' itu, Wimar berujar, 'Tidak hanya Wimar is back, tapi this time is for real', Ucapnya tegas menghadap kamera. Mungkin kali ini dengan situasi seperti hari ini, ketika politik menjadi panglima tanpa pasukan, acara Wimar tidak akan menderita pembredelan lagi, tapi siapa yang rela menghabiskan 30 menit setiap pagi di depan pesawat televisi mendengarkan penuturan perspektif Wimar yang konon akan didampingi co-host yang katanya akan cantik dan pintar itu ? Saya rasa tidak banyak. Dengan risiko setelah menonton Wimar is back itu audiens yang berangkat kerja akan menghadapi kenyataan jalan raya yang macet luarbiasa, karena berangkat lebih siang, rasanya nilai kenikmatan menonton acara itu tidak akan sepadan dengan peluh yang akan dikeluarkan. Tapi, Wimar dengan yakin  berkata, 'Anda jangan ke mana-mana sampai acara saya berakhir karena hari Anda tidak akan sama lagi setelah menyaksikan Wimar is Back', Tunggu rasanya ini bukan pesan acara Perspektif Wimar di SCTV jaman dulu ? Meski itu memang Wimar dengan rambut kribonya yang lebih tipis dan dengan usia yang 14 tahun lebih tua, greget itu ikut tergerus, sepertinya. 

Menurut pendapat saya Perspektif tidak perlu bangkit dari kematiannya. Setelah Orde Baru membunuhnya dulu, Perspektif Wimar cukup dinikmati melalui sindikasi radio dan surat kabar yang memuat transkrip acaranya. Menampilkannya kembali sebagai acara televisi lebih mirip ikhtiar repetisi yang bisa jadi kedodoran dalam kreatifitas penyampaian pesannya.

Tapi, mungkin Wimar dan tim kreatifnya paham soal itu. Setidaknya mereka merasa bahwa greget acara itu tidak sekuat dulu lagi. Mungkin karena itu juga Wimar merasa perlu didampingi oleh sesuatu atau seseorang yang disebutnya co-host. Wimar menekankan soal co-host itu paling tidak sebelas kali pada segment kedua acara itu yang sepertinya dikhususkan untuk memperkenalkan calon co-host kepada audiens. Ada delapan orang calon co-host yang diperkenalkan Wimar. Mulai dari presenter, aktris, selebritis dan entah apa lagi. 'Saya lebih dekat dengan perempuan', Begitu yang dituturkan Wimar di dalam biografinya, dan, mungkin, karena itulah delapan calon co-host-nya Wimar perempuan semua. Konon audiens bisa ikut memilih mana kandidate co-host yang paling pas untuk mendampingin Wimar. Caranya melalui polling SMS seperti yang dilakukan Indonesia memilik idolanya.

Tapi, apa justru dengan kehadian co-host acara itu akan malah belepotan ? Kalau tidak mau dikatakan mubazir ? Akan ada dua kepala dan dua mulut yang sama-sama punya keinginan, punya ide dan sama-sama ingin menyampaikan idenya kepada audiens. Let's say sudah ada brief dari show director atau dari creative director plus pembagian porsi bicara, tapi ini adalah acara live, sesempurna apapun pembagian porsi bicara, risiko bertabrakan akan tetap terjadi. Dari sisi penampilan, menurut pendapat saya kehadiran co-host sebaik apapun niatnya akan menjadi boomerang bagi misi this time is for real-nya Wimar. Apa alasan orang menyaksikan Perspektif, saya yakin jawabannya adalah Wimar. So, buat apa co-host ?

Tapi, okelah. Ini acaranya Wimar. Mungkin saya terlalu bawel. Saya jadi ingat apa yang dikatakan Goenawan Mohammad ketika eks awak Tempo berbondong-bondong menemuinya di Utan Kayu, mereka ingin menghidupkan kembali Tempo, namun GM tidak hendak. Baginya Tempo sudah selesai. Perjuangannya berakhir pada ulang tahunnya yang ke-24 majalah itu. Tidak ada gunanya dihidupkan kembali. Kalau ingin membuat majalah baru, lakukan saja, tidak perlu mengusik Tempo dari kuburnya.

Pada saat saya membaca itu rasanya saya tidak paham apa yang ada di benaknya GM, tapi, setelah Tempo kembali terbit, rasa Tempo orde reformasi tidak segurih Tempo sebelum di-breidel. Kadar jenakanya jauh berkurang. Rubrik Indonesiana yang dulu menjadi oase di tengah keseriusan berita politik majalan itu, kini rasanya hambar saja. Saya jarang lagi tertawa membacanya. Rasanya, itu bukan majalah Tempo. Setidaknya bukan Tempo yang dulu.

Pada titik ini, saya memahami kenapa GM enggan menghidupkan kembali Tempo.

Tapi, Wimar bukan Tempo. Apapun nama acaranya, selama Wimar duduk di sana dengan rambut kribonya dan kacamatanya, entah sebagai apa dan entah dengan siapa, maka Wimar adalah perspektif acara itu. Meski rasanya bukan rasa Perspektif yang dulu, itu tidak soal, toh mungkin pemirsa baru akan menyambutnya seperti dulu saya menikmati Perspektif Wimar di SCTV atau paling tidak ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di rumah dan masih terlalu pagi untuk menyantap program gossip di televisi akan mendapat pencerahan tentang satu topik atau tema yang dibawakan Wimar (dan co-host-nya).




Posted at 02:14 pm by husnayan
Make a comment  

Tuesday, January 29, 2008
The Death of Soeharto

Kematiannya begitu riuh. Saya menyaksikannya di televisi hari Ahad lalu. Tukang cukur yang tengah memangkas rambut saya menghentikan kegiatannya sejenak. Pandangannya lekat ke layar televisi. Nafasnya nyaris terhenti. Matanya nanar menatap peristiwa rusuh saat peti jenazah almarhum mantan Presiden itu dimasukkan ke dalam ambulance. Tampak tentara di luar ambulance. Mungkin mereka berusaha mengamankan evakuasi peti mati itu, tapi yang tampak tentara dengan baret merah seperti kehabisan akal untuk mengatasi keriuhan massa dan pewarta yang berusaha mengabadikan peristiwa yang tidak akan pernah terulang lagi. Saya tidak menghitung berapa saat tayangan gambar berlangsung. Tapi, sepertinya tidak lama. Ambulance itu meraung. Membelah kerumunan massa yang menyemut di pelataran parkir RSPP. Meninggalkan kumpulan manusia yang masih belum puas menyaksikan peti mati berisi jazad mantan Jenderal Besar. Dan nafas tukang cukur itu pun kembali teratur. Syukurlah. Rambut saya belum selesai dipangkas.

Tukang cukur itu kembali kepada pekerjaannya. Ia melakukan pekerjannya tanpa bertanya. Apa yang ada di benaknya, saya tidak tahu. Ia pun tidak mengatakannya. Sisa masa di dalam kedai tukang cukur itu dihabiskan dengan bunyi gunting dan suara derikan kursi yang saya duduki. Sementara di layar televisi reporter itu dengan berapi-api menggambarkan apa yang baru saja terjadi. Isi informasi yang disampaikan itu-itu juga, 'Mantan Presiden Soeharto meninggal dunia pada hari ini, Minggu, 27 Januari 2008,  jam 13:10 di RSPP Jakarta setelah dirawat selama 24 hari akibat kegagalan fungsi multi organ', kemudian ulangan gambar ketua tim dokter yang mengabarkan kematian itu dan bunyi sesenggrukan Ibu Tutut yang menahan tangis. Saya yakin tukang cukur itu tidak betul-betul konsentrasi dengan pekerjaannya. Sebagian benaknya fokus dengan apa yang diberitakan di televisi. Sebagian hasratnya ingin segera melompat duduk di bangku di depan televisi yang diletakkan di ruangan panjang ini. Hari yang tidak tepat untuk potong rambut.

Sepanjang sisa hari itu televisi penuh dengan liputan tentang meninggalkan sang Bapak Pembangunan. Media tidak sepakat ikhwal bagaimana seharusnya Soeharto diposisikan di benak audiens. Sebagian menyebutnya sebagai Jenderal Besar lebih sering dibandingkan dengan mantan Presiden RI Ke-2, sebagian melakukannya sebaliknya. Ada yang hanya menyebut namanya saja H M Soeharto. Namun ada juga yang menyebutnya dengan mantan penguasa Orde Baru. Banyak hal yang tidak disepakati oleh media memang. Karena media memang tidak pernah hendak mengajegkan peristiwa.

Apa yang terjadi hari itu tidak sepikuk yang terjadi keesokan harinya. 'Jakarta pagi ini seolah terhenti', Begitu reporter SCTV mengesankan apa yang ia saksikan di Jl Gatot Subroto, Jakarta. Ia mungkin benar. Pagi itu orang-orang ramai berdiri di pinggir jalan menunggu kereta jenazah yang membawa Soeharto ke Bandara Halim Perdanakusuma melintas. Apa yang ingin mereka saksikan ? Mungkin bukan apa, mungkin bukan sesuatu. Jenazah itu lelap di dalam peti yang berada di dalam kereta jenazah yang menjerit-jerit. Jalan dibuka oleh barisan sepeda motor besar dalam jumlah yang rasanya lebih dari yang dibutuhkan. Di belakang kereta jenazah mobil SUV ukuran besar ditambah iring-iringan bis dan sejumlah kendaraan kecil lainnya, 'Panjangnya mencapai 500 meter', Lapor Bimo reporter belia yang sepertinya ingin melaporkan semua hal yang dia lihat dan dia rasakan. Di dalam salah satu bis yang mengiringi kereta jenazah itu reporter SCTV yang lain, Bayu, melaporkan situasi jalan di Rasuna Said yang suasananya tidak jauh berbeda dengan di Gatot Subroto, 'Banyak karyawan yang sengaja meninggalkan meja kerjanya untuk menyaksikan rombongan kami lewat. Meski mobil pembawa jenazah sudah jauh di depan, namun orang-orang masih melambai-lambaikan tangannya ke bis kami dan kami membalasnya. Mereka melambaikan tangan kepada mantan pejabat yang duduk di bis kami. Bis kami kacanya lebar dan bening. Sehingga siapa saja yang ada di dalamnya bisa terlihat dari luar', Bayu melanjutkan laporannya setelah rombongannya memasuki tol dalam kota dari pintu tol Gatot Subroto, ' Banyak kendaraan yang sengaja berhenti. Bahkan kendaraan yang melaju ke arah Tomang ikut berhenti. Beberapa diantara turun dari kendaraannya dan berusaha memanjat pagar pembatas tol untuk menyaksikan terakhir kalinya jenazah mantan Presiden Soeharto', Suara Bayu adalah suara seorang reporter. Nadanya terjaga. Begitu juga emosinya. Cara dia melaporkan apa yang dilihat dan dirasakannya tidak beda dengan saat dia melaporkan cederanya Ronaldo, salah satu penyerang termahal di dunia yang kini bermain untuk kesebelasan AC Milan.

Budaya kematian (Necrocultura) di dalam peristiwa meninggalnya mantan Presiden ini disajikan begitu megah. Dentuman suara tambur mengiringi peti mati berisi jenazah yang menyusuri jalan Cendana, dentuman itu memekakkan telinga, sekaligus membuat orang yang mendengarnya merinding, personel militer yang jumlahnya mencapai 650 orang dibariskan ber-saf dan berbanjar di sepanjang jalan itu, bahkan mungkin lebih panjang dari jalan itu, atas nama penghormatan terakhir, iring-iringan motor besar membuka jalan raya yang biasanya macet, rangkaian kendaraan SUV yang berkesan angker sekaligus berwibawa menegaskan bahwa yang meninggal ini bukan orang sembarangan, bis besar berisi mantan pejabat, keluarga yang bersedih mengisyararkan si mati adalah orang penting semasa hidupnya dan dicintai orang-orang terdekatnya, reporter berita dan pengacara mewartakan bahwa ini adalah peristiwa penting bagi semua, mobil mewah dan sejumlah pejabat aktif yang menghantar kepergian jenazah ke dalam pesawat Hercules VVIP menjadi memo bahwa ini adalah sejarah negara serta kerabat yang berseragam warna hitam berkabung mengilustrasikan begitulah kalau orang besar meninggal dunia : mengharukan namun enak dilihat, bahkan bisa menghibur, mengundang rasa ingin tahu dan penasaran, selingan di tengah kerumitan sehari-sehari, sesuatu yang tidak akan terulang lagi dan selusin hal lainnya yang menjauhkan kesan seram dari satu peristiwa bertajuk kematian, 'Kematian adalah musibah terbesar yang menimpa ummat manusia', Demikian sabda Nabi Muhammad Saw. Namun kesan musibah itu tidak tampak benar di dalam iring-iringan itu. Kesan musibah hanya tampak saat kamera menangkap gambar wajah-wajah kuyu karena kurang tidur, pucat akibat tidak sempat berpupur, sembab setelah menangis semalaman dan air mata yang masih membasahi pipi anak-anak Soeharto. Kesan duka tersurat di wajah SBY yang menjadi inspektur upacara pemakamam. Mungkin di benaknya melintas pertanyaan akankah kemegahan seperti ini menyertai pemakamannya suatu hari nanti. Selebihnya adalah pikuk, riuh, sibuk dan, mungkin, guyub : Sejumlah mantan pejabat era Orde Baru tampak bergerombol dan berusaha khidmat mengikuti upacara pemakaman, mereka bertukar sapa dengan sesama mantan koleganya. Mereka sudah sepuh, namun kata Fachri Ali kini mereka mungkin akan berkonsolidasi setelah mantan boss-nya wafat.

Kompleks pemakaman itu memang tidak seram. Sependek yang saya ingat komentar audiens yang melihat Astana Giribangun hanya berputar soal, 'Bagus, ya', 'Itu kayu jati, ya ? Berapa tuh harganya ? Pasti mahal tuh', 'Itu makam Ibu Tien ? Gede ya makamnya, tapi kayaknya cungkupnya kegedean deh. Kenapa gak dipilih yang lebih kecil ya', 'Oh, Pak Harto dimakamkan dengan petinya, ya ? Aku kira dimakamkan hanya dengan kain kafan aja. Terus dikasih tanah 'gak ?, 'Itu ada foto-foto ya di sana ? Jadi ada gallery dong di dalam makam ?' Lantainya itu marmer, ya, keren bener' Tidak ada kesan seram. Bahwa menurut hadits nabi 7 langkah setelah orang terakhir meninggalkan makam, malaikat akan meng-hisab iman si almarhum yang dilukiskan oleh Jalalluddin As-Suyuti di dalam kitabnya sebagai pertanyaan yang hanya mampu dijawab oleh segelintir dari mereka yang imannya cukup tebal, sama sekali tidak tergambar di acara itu.

Bagi media, kematian mantan Presiden ini adalah salah satu episode di dalam sajian berita mereka. Salah satu judul terbaik di dalam portfolio liputan khusus mereka. Salah satu rangkaian jam terbaik yang dihabiskan oleh media untuk satu liputan yang mencampur adukkan berbagai rasa. Seandainya saja waktu kematiannya bisa diduga tidak mustahil peristiwa itu akan dikemas lengkap dengan sponsor berita dengan tagline The death of Soeharto presented by Peti Mati Tjap Genderuwo', misalnya atau 'Kain Kaffan is provided by Kain Kaffan cap Tali Potjong Perawan' atau bahkan mungkin ada endorser-endorser lain yang berhubungan dengan perlengkapan jenazah dari berbagai kultur yang mendukung seluruh rangkaian acara ini.

'Media is like a zoo', kata si boss saya suatu ketika.Di kebun binatang memang banyak hal yang bisa dilihat. Hewan yang mengibakan di dalam kandang yang dipisahkan pagar atau kolam, mengundang iba penyayang binatang, membuat jengkel pencinta alam, tetapi menghibur anak-anak yang geli melihat tingkah laku monyet yang ingin keluar dari kandang dan membuat tersenyum tukang kacang.

Posted at 07:07 pm by husnayan
Comments (2)  

Monday, December 31, 2007
Bandung, Akhir Tahun dan lain-lain

Orang yang meninggalkan Bandung untuk mengelilingi dunia akan kembali lagi ke Bandung. Begitulah sepenggal kesan M.A.W Brouwer tentang Bandung. Tapi, bukan karena Brouwer saya mengunjungi Bandung. Tapi, karena saya merasa memang saya budak Bandung. Besar di Bandung, sakola di Bandung dan hanya karena tidak mendapat pekerjaan di Bandung saya tidak (atau mungkin belum, ini adalah sepenggal do'a) bekerja di Bandung. Membicarakan Bandung sifatnya sangat subyektif kalau untuk saya. Meski banyak kritik bahwa Bandung saat ini yang tidak seindah Bandung jaman dulu, seperti banyak disampaikan banyak orang, tapi bagi saya Bandung adalah the most beautiful place on earth lah. Saya menikmati Bandung setiap kali saya mengunjunginya. Saya menikmati pedestrian jalan-jalan di kota Bandung dengan rasa yang tidak jauh berbeda ketika saya menapakinya dulu semasa masih jadi budak sakola di Bandung. Pedestrian di jalan Braga bagi saya rasanya masih seperti ketika saya melewatinya setiap pagi dulu ketika berangkat dan pulang sekolah saat masih sekolah SMP di jalan Gardu Jati. Gedung Merdeka rasanya semakin gagah dan berwibawa, meski kini tempat di sekita gedung itu bukan lagi tempat kegiatan utama kota Bandung seiring dengan lunturnya citra Braga sebagai pusat kegiatan berbelanja dan nongkrong. Mencari sarapan dan koran pagi di Cikapundung rasanya masih seperti itu ketika saya dulu dan bareng teman saya, Dede, mencari-cari majalah bekas di sana. Bubur ayam mang Oyo tidak mengalami perubahan rasa berarti sejak saya menikmatinya pertama kali di seberang jalan Panatayudha. Bahkan mang Oyo-nya pun masih berpakaian seperti itu dengan cara berbicara yang sama, 'Bade kurupuk deui ? Sok siuk we ku nyalira', Seraya tangannya memperagakan bagaimana menggunakan mangkuk tempat kerupuk itu untuk menyendok kerupuk dari plastik besar.

Waktu tidak berhenti berputar di Bandung, tapi mungkin saya yang terlalu menikmati Bandung. Bagaimanapun Bandung berubah. Dulu mall yang saya tahu hanya BIP., tempat saya berdesak-desakkan untuk bersidahulu mendapatkan tiket bioskop Empire 21. Kini BIP tampak sebagai mall tua berusaha tampil menarik dibandingkan dengan Bandung Super Mall, misalnya. Dulu toko kelontong terbesar adalah Jogja yang berlokasi di BIP, di Jalan Sunda dan di Jl Kepatihan, kini Jogja tampaknya mesti megap-megap bersaing dengan Giant, Carrefour dan Hypermart. Bandung memang menggeliat terus, dari peruntukannya sebagai tempat tinggal menjadi kota bergeser menjadi kota dengan kegiatan ekonomi yang lebih sibuk. Bandung tidak akan pernah berhenti berubah. Mungkin apa yang dituturkan oleh Pramudya Ananta Toer di dalam bukunya yang bertajuk Jalan Raya Pos, Jalan Daendels benar bahwa di Bandung tidak ada yang benar-benar nyata dan ajeg selain kenangan tentang kota itu : Mulai pemberian julukan Paris van Java semasa kolonial, julukan Bandung lautan api semasa revolusi fisik, konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955, mojang priangan yang disenandungkan dalam lagu Panon Hideung yang melodinya sama dengan lagu Far Over The Sea, hingga legenda Sangkuriang yang punya kemiripan dengan cerita Yunani kuno, Oedipus Rex. Apa yang ditulis Pram mungkin di-amin-i boss saya.

Saya mengunjungi pusat keramaian Paris van Java di jalan Sukajadi beberapa waktu lalu dengan boss saya yang ganteng itu. Itu adalah kunjungan yang kedua ke tempat itu. Boss saya pun pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya. Kenangan yang tersisa di benak si boss saya itu adalah bahwa suasana Paris van Java benar-benar mirip dengan Cannes, 'Hanya di Cannes lebih lebar spasi jalannya', Si Boss menuturkan tentang koridor jalan kaki di Cannes. Betapa ia menikmati kunjungan pertamanya itu dituturkan dengan cerita tentang ia yang betah berlama-lama menyesap kopi di salah satu kedai kopi di Paris van Java. Namun pada kunjungan yang kedua ini si boss itu mengomel. Baginya tempat itu kini begitu pikuk. Suasana Cannes itu sudah tidak ada lagi, 'Hilang sudah Paris-nya. Hanya Java-nya saja yang tertinggal', Demikian keluhnya. Pada kunjungan yang kedua itu ia tidak mau berlama-lama. Ia bergegas pergi dari tempat itu begitu kopinya habis, 'Unbelievable', Omelnya tentang perubahan yang terjadi di sana.

Tidak hanya Paris Van Java yang berubah.

Bukit Dago rasanya sulit dijangkau saat saya masih kuliah dulu. Kini rasanya Bukit itu menjadi semakin pendek. Pembangunan menjangkau Bukit itu. Memangkas vegetasinya menjadi perumahan mewah. Saya berpikir lalu di mana daerah resapan air hujan kota ini ? Tapi, saya berperasangka baik saja, mestinya Pemda Kota Bandung bersama-sama dengan barudak ITB sudah memperhitungkan hal itu. Saya mendengar juga kalau daerah Puncrut kini dibuka juga sebagai kawasan hunian. Tapi, lagi-lagi saya berusaha untuk tidak cemas.

Kota tua ini bagi saya semakin nyaman pada musim hujan seperti sekarang. Mendung, hujan rintik-rintik, rasanya seperti Bandung dulu ketika saya masih budak leutik. Angin yang berhembus kencang meninggalkan kekhawatiran akan turunnya hujan dan sekaligus membuat saya bersemangat untuk jalan-jalan pagi. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah SD Embong. Tempatnya di Jl Embong, tentu saja (Ini menarik. Saya perhatikan nama sekolah SD di Bandung seringkali sesuai dengan nama jalan tempat sekolah itu berada. Misalnya saja SD Merdeka di Jl Merdeka, SD Soka di Jl Soka, SD Pandu di Jl Pandu and many more). Dulu ada dua SD Embong, SD EMbong I dan SD Embong II. Tapi, sekarang hanya ada satu SD Embong saja. Tempatnya di bekas SD EMbong II. Dulu saya bersekolah di SD Dua ini. Dulu bangunannya jelek, reyot dan nyaris rubuh, kini tampak lebih rapi dan terawat. Saya tidak tahu juga kenapa hanya berdiri satu SD saja sekarang. Mungkin jumlah siswanya semakin sedikit. Saat saya menyeberangi Jl Naripan, ada sesosok preman menyapa saya. Wajahnya tampak kurang tidur. Saya menyebutnya preman karena tampangnya memang sangar. Dengan jeans lusuh dan jaket kulit yang tampak usang ia mendekati saya. Setelah dekat barulah saya mendengar apa yang diteriakannya. Ia memanggil nama saya. Nama kecil saya which means he's friend of mine back to more than 25 years ago when I was budak SD Embong Dua keneh.

Setelah dekat saya mengingat-ingat wajah dan suaranya. Ia menyebut namanya dengan bersemangat, 'Ieu Yana, emut teu ?', Saya menganggukkan kepala setelah beberapa saat. Iya, rasanya itu memang dia, Yana. Saya ingat kita menyelesaikan SD bareng-bareng dulu. Yana menjabat tangan saya erat-erat hingga saya khawatir ia tidak akan melepaskannya. Tangannya dingin betul. Mulutnya sibuk bercerita sambil sesekali menghisap rokok. Mungkin untuk mengusir hawa dingin. Dia banyak bertanya tentang saya sementara saya asyik mengamati teman lama itu dengan takjub. Selain tampak tua dengan rambut yang mulai memutih nyaris tidak ada perubahan lain pada diri Yana. Tingginya nyaris tidak berubah. Bekas lukas di pipinya, masih seperti itu. Saya ingat, Yana gemar berkelahi. Saya ingat juga beberapa kali ia melindungi saya dari gangguan anak-anak jahil yang ukuran tubuhnya lebih besar dari saya. Saya berhutang budi untuk nyali besarnya di masa lalu. Saya bertanya di mana ia tinggal, ia menjawab cepat, 'Di Gang Beca', Saya ingat itu tempat tinggalnya dari dulu. Saat saya tanya berapa jumlah anaknya, 'Ia menjawab dengan sumringah, 'Empat. Yang paling besar baru lulus STM', Dia berkali-kali mengatakan pangling dengan saya. Saat saya tanya ia kerja di mana, jawabannya lemas terbawa angin, 'Nya kieu lah. Kaditu ka dieu. Naon wae lah'. Masa berganti, namun sepertinya bagi teman saya ini tidak banyak hal telah berubah. Ia saksi perkembangan kota ini. Tapi, sayang ia tampaknya tidak terangkut. Dari penuturan singkatnya saya mendapat sedikit gambaran tentang apa yang telah dan tengah ia alami.

Selepas STM Yana tidak lagi melanjutkan sekolah. Ia memutuskan untuk bekerja. Ia diterima bekerja di sebuah pabrik industri garmen di Bandung Selatan. Ia merintis karirnya dari bawah hingga menjadi mandor. Situasinya baik selama beberapa tahun. Hingga ia berani melamar gadis tetangganya, his high school sweet heart lah, hingga mereka memiliki empat anak dan memiliki kendaraan sendiri plus bisa mengontrak rumah. Nasib kemudian berubah. Pabrik tempatnya bekerja lolos dari jeratan krisis keuangan dan krisis politik yang bergejolak tahun 1997 - 1998, tapi tidak lolos saat Indonesia kalah bersaing paket investasi menarik yang ditawarkan Vietnam. Investor Korea yang menguasai pabrik tempat ia bekerja memutuskan berkemas-kemas dan memindahkah seluruh fasilitas produksinya ke Vietnam. Tanpa, banyak ramai diberitakan proses pemutusan hubungan kerja berjalan lancar. Buruh dan karyawan lainnya sepakat dengan uang pesangon yang ditawarkan perusahaan. Yana menuturkan dengan uang pesangonnya itu ia memutuskan membuka bengkel dan tempat cuci motor. Namun, usahanya tidak berjalan baik. Bengkelnya sepi, begitu juga tempat cuci motornya. Ia berusaha menyelamatkan usahanya itu dengan menjual kekayaannya, tapi nasib baik tidak berpihak padanya saat itu. Usahanya tidak bisa diselamatkan sementara seluruh modal usahanya ludes. Ia tidak punya pekerjaan dan tabungan lagi. Berbagai jenis pekerjaan dicobanya semenjak itu : kernet, sopir angkot, buruh cuci mobil, kurir, tukang parkir and now he does anything for money.

Saya melihat sorot matanya, layu. Meski ia berusaha sumringah, tapi ia tetap tampak getir. Dia bertanya apakah saya punya sesuatu yang bisa ditawarkan untuknya, 'Padamelan naon wae lah. Asal halal', ujarnya lirih. Saya sedih juga dengan keadaannya. Lebih sedih lagi karena saya tidak bisa membantunya. Saya mengingat-ingat posisi kosong di kantor saya yang mungkin cocok untuk Yana. Namun belum selesai saya mengingat-ingat Yana menegaskan bahwa ia tidak mau meninggalkan Bandung, 'Upami di Jakarta mah alim. Upami aya mah di Bandung wae lah. Gaji ageung ari di Jakarta mah seep ku ongkos sareng emam panginten', begitu ia menuturkan alasannya. Dan ia benar.

Saya jadi iba. Setelah bercakap-cakap beberapa saat lagi, kita berpisah. Saat saya bersalaman lagi dengannya saya selipkan uang digenggamannya. Ia berusaha menolak, 'Eh, teu kedah. Wios ... wios ...', tuturnya. Saya memaksa ia menerimanya. Uang itu tidak seberapa. Tidak akan membantu meringankan beban apa-apa dari derita yang mungkin tengah menghimpitnya. Uang itu sebagai tanda malu saya yang tidak bisa membantu Yana keluar dari kesulitannya.

Saya berlalu dari Jl Naripan. Sekejap pagi itu rasanya tidak indah lagi. Angin yang bertiup kencang itu tidak membawa saya ke mana-mana, kecuali membuat saya menggigil. Tapi, berhubung saya sudah bertekat untuk jalan-jalan ke Cikapundung saya lanjutkan perjalanan itu.

Tidak lama saya berjalan saya sampai di depan Kantor Departemen Pekerjaan Umum. Kantor yang tidak sulit dikenali. Ada mesin tua yang bentuknya mirip lokomotif. Mungkin itu adalah lokomotif. Tapi, kata abang saya dulu itu bukan lokomotif, itu adalah alat untuk meratakan jalan. Mesin itu katanya digunakan juga dalam pembangunan jalan di Cadas Pangeran. Entahlah. Mungkin saja abang saya benar atau dia membual. Soalnya saya tidak melihat prasasti yang menerangkan hal itu, jadi darimana abang saya bisa tahu sejarah mesin itu. Dulu saya tidak pernah menyempatkan diri melihat dari dekat alat itu. Pagi itu saya menyempatkan diri mengamatinya dari dekat dengan seksama. Sepertinya mesin itu masih gagah. Mungkin saja masih berfungsi. Sayang diletakkan di udara terbuka seperti itu. Kenapa tidak dirawat sih ?

Tidak jauh dari Kantor Departemen Pekerjaan Umum terletak kantor Surat Kabar Pikiran Rakyat. Setidaknya orang-orang Bandung menyebutnya begitu. Sependek yang saya ingat Surat Kabar Pikiran Rakyat tidak lagi berkantor di sana. Setidaknya kantor ini kini hanya melayani soal iklan. Kantor redaksi dan percetakan sudah pindah ke Jl Soekarno - Hatta di tepi kota sana. Tapi, itulah urang Bandung, mereka tidak mau repot mengganti nama. Saya jadi ingat jalan di belakang rumah saya yang disebut jalan Bungsu. Nama Bungsu itu sudah lama diganti menjadi Jl Veteran, tapi who cares, semua orang masih menyebutnya Jl Bungsu. Lebih tragis lagi nama Jl Tamblong. Jalan itu pernah diganti nama dengan nama seorang tokoh Sunda. Tetapi, orang-orang enggan menggunakan nama baru itu. Hingga sekarang orang tetap menyebutnya Jl Tamblong. Lalu apa nama baru yang hendak menggantikan nama jalan itu ? Tidak seorangpun ingat.

Saya berhenti sejenak di tukang Bajigur di depan Kantor PR itu. Saya pesan satu gelas bajigur dan saya melahap satu pisang rebus. Sedap banget. Sekejap rasa pegal di kaki hilang. Saya lumayan lama duduk di tukang bajigur itu. Sepertinya pagi itu hanya saya pembeli yang dilayani tukang bajigur tua itu. Tepat di seberang Kantor PR berdiri megah hotel tua bernama Homann. Namanya kini diembel-embeli Bidakara di depannya. Hotel itu penuh, kata teman saya yang tidak jadi berangkat ke Bandung untuk merayakan tahun baru. Hingga akhir tahun penuhnya, tambah teman saya lagi. Saya asyik amati kesibukan jalan Asia Afrika itu. Sepeda motor memenuhi jalan. Sekali dua ada bis Damri melintas. Ada dua macam bis Damri, kata adik saya. Yang ber-AC dan yang tidak, mirip dengan di Jakarta lah, Adik saya melengkapi keteragannya. Jalan Asia Afrika tidak bertambah lebar. Mungkin juga tidak bertambah panjang, tapi bagi mata saya rasanya jalan itu semakin sempit. Mungkin karena saya yang semakin tambun  ditambah kendaraan yang semakin banyak.

Bajigur itu habis. Dua pisang rebus tandas saya kunyah. Saya sudah lebih segar untuk melanjutkan jalan-jalan. Saya lanjutkan jalan kaki lagi. Ke arah Gedung Merdeka.

Dulu, di samping Gedung Merdeka ini ada bioskop. Cukup terkenal. Namanya Majestic. Bioskop dengan arsitektur art deco. Konon itu adalah bioskop terakhir dengan arstitektur demikian di dunia. Tapi, tempat itu bukan bioskop lagi sekarang. Entah peruntukannya untuk apa. Saya mencoba melongok ke dalam lobby-nya. Saya ingat dulu dengan abang saya, saya sering melihat-lihat poster film di situ. Film-film yang dibintangi oleh aktor-aktor tua seperti Alain Dellon, John Derek, Gregory Peck, Johny Weismuller dan yang lain-lain yang sudah lupa. Setelah agak besar saya sempat menyaksikan beberapa film di sana. Saya masih ingat saya menyaksikan Clint Eastwood menembaki bandit-bandit Los Angeles dalam perannya sebagai Dirty Harry di film Sudden Impact di sini, kemudian Alain Delon yang saya lupa judulnya dan yang terakhir Blue Velvet, rasanya itu sekitar tahun 1988. Saya ingat untuk menyaksikan Ble Velvet saya bertiga dengan dua teman yang lain harus bolos acara Pemantapan pelajaran matematika. Saya tidak ingat film-film lainnya. Hal lain yang saya ingat dari bioskop ini adalah tidak ada AC di dalamnya. Jadi, kalau selesai menonton film badan kita bisa kuyup dengan keringat.

Setelah puas mengamati Majestic saya melanjutkan jalan kaki ke arah depan Gedung Merdeka. Saya melawati gedung tua itu begitu saja. Tidak lama saya sampai di Cikapundung. Ini adalah terminus dari perjalanan pagi ini. Saya ingin membeli surat kabar akhir pekan. Cikapundung ramai, seperti biasa. Tempat ini telah melahirkan banyak orang kaya dan saudagar saat surat kabar dan media cetak mencapai popularitasnya. Mudah-mudahan saat ini pun demikian. Perjalanan berakhir dengan membawa pulang beberapa edisi surat kabar akhir pekan dan beberapa bungkus nasi kuning sedap dan murah (sebungkusnya hanya Rp 3,500.00, tapi sedap banget apalagi kalau disantapnya selagi hangat). 'Di Jakarta dengan harga segitu lu dapet nasi yang gak karu-karuan rasanya', Kata seorang teman asli Jakarta yang bekerja untuk Bank Niaga. Tapi, ini Bandung. Makanan murahnya aja enak banget rasanya.

Jalan-jalan pagi yang menyenangkan. Saya rasa saya akan melakukannya lagi pada kunjungan berikutnya. Tepatnya, saya pasti akan melakukannya pada kesempatan pertama saya mengunjungi kota tua ini lagi.









Posted at 05:57 pm by husnayan
Comments (3)  

Friday, December 21, 2007
Wimar Witoelar : 'Hell Yeah"

Saya sudah selesai membacanya dan lumayan kecewa. Rasanya aneh aja buku itu. Banyak hal yang tidak diungkap (atau tidak diungkapkan ?). Padahal saya yakin cerita tentang Wimar Witoelar pastilah menarik. Misalnya saja, bagian pendapat Wimar tentang presiden-presiden Republik Indonesia tidak diungkapkan secara rinci alasan penulisnya karena ia tidak tertarik dengan topik seperti itu. Kalau menurut saya sih aneh. Wimar, bagaimanapun, jauh sebelum ia menjadi pembawa acara talkshow di televisi dan radio swasta di Indonesia dia pernah bergiat di politik praktis. Sependek apa pun keterlibatannya, tapi dampaknya terasa sampai kini. Keputusannya untuk menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahib adalah pernyataan politiknya Wimar. Acara televisinya yang bertajuk Perspektif adalah talkshow yang membuat berang penguasa Orde Baru, andaipun acara itu tidak pernah dirancang untuk mengusik penguasa pada saat itu, tapi pada akhirnya acara itu dihentikan karena ada oknum penguasa atau bahkan penguasa itu sendiri yang terganggu. Jadi, menurut saya menulis kehidupan Wimar adalah juga menulis tentang pendirian politiknya dan karena bagian ini tidak sedikti menyita porsi hidupnya, rasanya pantas kalau mendapat bagian yang lumayan banyak dan rinci di dalam buku riwayat hidupnya.

Hal lain yang dirasakan kurang dari buku ini adalah kisah cintanya dengan Suvat, sang istri. Fira Basuki kurang menggali dalam tentang kehidupan Suvat sebelum menikah dengan Wimar dan bagaimana pergulatan Wimar yang dalam bagian-bagian awal diceritakan tidak pernah pacaran, tapi ketika dalam perjalanan ke Amerika yang pertama berjumpa Suvat langsung cocok dan seketika memutuskan menikah. Apa raksi keluarga Suvat kala itu, misalnya, sama sekali tidak ditulis. Membaca bagian ini seperti melompat dari pembukaan langsung ke kesimpulan. Semestinya kalau Fira Basuki tidak suka menulis soal politik, mungkin ia akan lebih baik menulis soal kisah cintanya Wimar.

Hal Wimar dipenjara karena aksinya yang tidak mendukung Soeharto setelah 12 tahun berkuasa juga tidak diceritakan banyak (Dituliskan di dalam buku Wimar dan teman-temannya memasang spanduk besar bertuliskan Tidak lagi mendukung Soeharto sebagai Presiden RI di depan kampus) . Semestinya bagian ini menjadi bagian yang sangat menarik. Bagaimana seorang Wimar yang notabene adalah salah satu bidan lahirnya Golkar sampai bisa dipenjara padahal pada saat itu Kang Rahmat, kakaknya yang terdekat adalah seorang anggota Parlemen, seperti halnya Sarwono Kusumaatmadja. Tidak ada in-dept interview dengan kedua orang dekat Wimar ini ikhwal mereka saat itu menyaksikan adik dan sahabat mereka ditangkap tentara. Mengapa mereka tidak mencegak tentara untuk tidak menahan Wimar, misalnya. Oke, mungkin Fira Basuki tidak suka menulis soal politik, tapi paling tidak Fira bisa menulis sikap dua orang sahabat Wimar itu atau sikap Suvat istri Wimar, perasaannya, kepanikannya, bila ada, kala sang suami ditahan militer. Lagi-lagi bagian ini tidak di-eksplorasi jauh.

Tapi, bagaimanapun banyak hal lain yang menarik juga. Meski saya rasa terlalu ringkas ditulis. Seperti bagian bertajuk Perempuan, Cinta, dan Cerita. Meski rasanya Fira menulis melompat-lompat ke sana kemari soal Wimar dan perempuan-perempuan yang pernah dekat dan berpengaruh besar dalam hidupnya.

Beberapa tahun lalu di Indosiar ada acara bertajuk Reuni. Acara itu menghadirkan sejumlah orang yang pernah bersekolah di SMA yang sama sekian lama dahulu. Pada salah satu episode-nya ditampilkan Reuni SMA 3 Bandung. Saya saksikan di layar televisi ada Wimar Witoelar bercampur dengan peserta reuni lainnya. Saya baru tahu saat itu kalau Wimar pernah terlibat dengan SMA 3 Bandung. Saya ikuti acara itu sampai selesai dan kemudian saya tahu bahwa Wimar pernah mengajar Fisika di SMA 3 Bandung. Hal ini terungkap dari penuturan seorang peserta reuni yang pernah nyontek kala ulangan mata pelajaran yang diasuh Wimar. Saat itu Wimar tertawa lebar hingga matanya menjadi sebentuk garis saja mendengar kisah lama yang dituturkan bekas muridnya.

Pengalaman Wimar kaya dan luar biasa. Saya rasa Wimar mesti menulis sendiri kisah hidupnya. Mungkin salah satu sahabat karibnya yang harus menulis, kalau Wimar tidak ingin menulisnya sendiri. Bagaimanapun orang seperti Wimar tidak banyak. Pandai menulis dan sekaligus enak kalau didengar sebagai presenter atau pembicara. Tidak pelit bicara dan humble.






Posted at 01:54 pm by husnayan
Comments (3)  

Monday, December 17, 2007
ITB

Saya main ke ITB Sabtu kemarin. Bukan ITB yang dulu. Bukan ITB yang ada lapangan bolanya di tengah itu. Bukan ITB yang ada boulevard tempat wisudawan berantem dan tawuran selepas mereka di wisuda. Ini ITB yang baru. ITB yang tampaknya lebih rapi, ITB yang banyak bangunan baru, ITB yang di dalam kampusnya ada rumah makan sunda enak banget. ITB yang punya toko buku yang ada cafe-nya. 'Wisuda sudah tidak di sini lagi. Tempat wisuda sekarang di Babakan Siliwangi di Sasana Budaya Ganesha', Kata teman saya yang saya temui di ITB kemarin itu. Saya bertanya pada teman yang kini menjadi dosen di ITB itu tentang apakah kantin pusat yang dulu ada di seberang lapangan bola masih ada ? Dia mengernyitkan keningnya, sepertinya berusaha mengingat dan jawabannya mengejutkan, 'Rasanya masih ada, tapi gak tahu juga, ya. Saya jarang soalnya ke Kantin Pusat', Pertanyaan berikutnya, 'Kalau Student Center masih ada ?' Dan jawabannya adalah, 'Hmmm ... mungkin masih', Saya tidak lagi memeriksa apakah jawaban-jawaban teman saya tadi itu benar karena kita kemudian begitu sibuk bicara mengenai rencana kerja proyek.

Tapi, eniwei suasana kampus ITB masih  enak. Masih banyak pohon-pohonnya. Masih teduh. Meski saya percaya pohon-pohon mahoni besar di tepi boulevard-nya itu sudah banyak yang ditebang. Syukur aja yang namanya aula barat, aula timur dan ruang-ruang kuliah di sekitarnya masih seperti itu bentuknya. 'ITB sudah menjadi BHMN sekarang'. Kata teman itu iagi. Mungkin teman ini mau mengingatkan bahwa perubahan status legal membawa perubahan di lingkungan kerja dan lingkungan fisik ITB. Kini, kata teman itu lagi ITB terbagi atas beberapa sekolah, 'Seperti Harvard lah' Katanya, 'Kalau di Harvard kan ada beberapa sekolah seperti Harvard Medical School untuk sekola kedokterannya, Harvard School of Law untuk sekolah hukumnya, nah di ITB juga begitu ada Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Sekolah Ilmu & Teknologi Hayati, Sekolah Bisnis dan Managemen, Sekolah Farmasi dan lain-lainnya deh, tapi Fakultas juga masih ada', Teman ini tidak melanjutkan apa bedanya 'sekolah' dengan 'fakultas'. Ia segera melompat ke topik yang lainnya, 'Tapi, kulturnya secara umum sih masih sama aja. Senioritas masih di depan lah. Orang-orang seperti saya masih belum bisa jadi professor, meskipun udah Ph.D dan meskipun waktu di Inggeris, waktu ambil S3 itu, udah dipercaya juga untuk jadi wakil professor, tapi di sini tidak. Kalau di sana kalau si professornya itu berhalangan saya yang gantiin. Tapi, di sini gak begitu. Pokoknya di sini masih seperti yang dibilang di iklan A-Mild lah, kalau belum tua belum didengar, kalau belum tua belum boleh bicara'.

Tapi, saya pikir tidak hanya itu yang tidak berubah. Ada yang lain yang belum berubah juga. Saya membaca di website Tempointeraktif soal tunggakan uang kuliah mahasiswa ITB. Dilaporkan ada sebanyak 1.268 mahasiswa ITB yang belum membayar uang kuliah dengan nilai total mencapai Rp 2,76 miliar lebih. Rinciannya adalah 75 orang mahasiswa baru yang lolos melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru dan sisanya, 1.117 mahasiswa strata 1, 127 mahasiswa strata 2, dan 24 mahasiswa strata 3.

Katanya ITB tidak akan mengeluarkan mahasiswa-mahasiswa yang tidak mampu itu, tapi ITB akan berusaha mencarikan beasiswa untuk mereka. Seperti dulu ITB masih baik lah untuk urusan ini.

Berapa sih uang kuliah di ITB hari ini ? Teman saya yang jabatannya itu assistant professor tidak ingat berapa persisnya uang kuliah anak ITB tahun ini. Tapi, yang jelas, katanya, 'Lebih mahal dari uang kuliah kita dulu yang hanya Rp 60 ribu plus RP 60 ribu lagi kalau ada praktikum. Sekarang sih uang kuliahnya udah jutaan satu semesternya'.

Dulu ada cerita anak ITB yang tidak punya untuk sekolah. Ia datang dari Medan. Bekal pakaiannya adalah yang melekat di badannya plus satu stel pakaian ganti yang disimpannya di dalam tak kresek. Uang yang ada di sakunya hanya cukup untuk membayar uang kuliah dua semester. Untuk kost dan makan dia belum punya rencana. Kata teman waktu itu yang kenal dengan orangnya selama satu semester anak itu tinggal di kampus. Ia tidur di Perpustakaan Pusat yang bukan 2 4 jam dan ketika peristiwa 5 Agustus berdampak pada jam buka perpustakaan pusat yang tidak lagi 24 jam anak itu pindah tempat tidurnya ke masjid Salman. Di Salman ia tidak hanya numpang tidur, tapi juga mandi dan mencuci baju. Sebagai catatan anak ini bukan muslim. Setelah satu semester barulah teman-temannya memperhatikan temannya yang bernasib kurang baik ini. Mereka mencari akal agar anak ini mendapat tempat tinggal yang layak. Problem solved.

Saya bayangkan ITB hari ini masihkah menyimpan cerita seperti itu. 'Masalah ITB saat ini bukan hanya soal uang kuliah yang mahal, Kang', Kata teman itu lagi, 'Tapi juga tempat parkir. Banyak anak ITB yang anak orang kaya sekarang yang ke sekolahnya itu bawa mobil. Waktu kita dulu kuliah 80% anak ITB itu berasal dari keluarga yang tidak mampu. Sekarang angka itu berubah. Anak orang kayanya semakin banyak'.

Saya sampai sore di kampus ITB itu. Menjelang jam lima pertemuannya selesai. Hujan turun rintik-rintik. Aspal jalan di dalam kampus itu basah. Udaranya dingin. Angin bertiup kencang. Boss saya yang ganteng itu bergumam sambil merapatkan jaketnya, 'Perfect weather'. Saya ajak di jalan kaki ke Dago, 'I want a cup of coffee', Katanya. Setelah sampai gerbang bougenville dia nanya lagi, 'Where's the cafe ?' Saya jawab, kita masih harus jalan lagi. Nanti ada tempat minum kopi yang enak. Kita jalan kaki sambil mendiskusikan apa yang baru saja kita dengan dari anak-anak ITB itu. Setelah hampir 20 menit jalan kaki belum juga sampai ke tempat minum kopi si Boss bertanya lagi dengan ketus, 'Lu ngerjain gue, ya ?' Saya langsung jawab, 'Gak, betul sebentar lagi ada cafe.  Tunggu aja'.

Kalau dia tahu yang sesungguhnya sih emang iya. Saya ingin jalan kaki aja huhujanan. Just like the old days.


Posted at 08:55 am by husnayan
Comments (3)  

Next Page