<< December 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, December 21, 2007
Wimar Witoelar : 'Hell Yeah"

Saya sudah selesai membacanya dan lumayan kecewa. Rasanya aneh aja buku itu. Banyak hal yang tidak diungkap (atau tidak diungkapkan ?). Padahal saya yakin cerita tentang Wimar Witoelar pastilah menarik. Misalnya saja, bagian pendapat Wimar tentang presiden-presiden Republik Indonesia tidak diungkapkan secara rinci alasan penulisnya karena ia tidak tertarik dengan topik seperti itu. Kalau menurut saya sih aneh. Wimar, bagaimanapun, jauh sebelum ia menjadi pembawa acara talkshow di televisi dan radio swasta di Indonesia dia pernah bergiat di politik praktis. Sependek apa pun keterlibatannya, tapi dampaknya terasa sampai kini. Keputusannya untuk menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahib adalah pernyataan politiknya Wimar. Acara televisinya yang bertajuk Perspektif adalah talkshow yang membuat berang penguasa Orde Baru, andaipun acara itu tidak pernah dirancang untuk mengusik penguasa pada saat itu, tapi pada akhirnya acara itu dihentikan karena ada oknum penguasa atau bahkan penguasa itu sendiri yang terganggu. Jadi, menurut saya menulis kehidupan Wimar adalah juga menulis tentang pendirian politiknya dan karena bagian ini tidak sedikti menyita porsi hidupnya, rasanya pantas kalau mendapat bagian yang lumayan banyak dan rinci di dalam buku riwayat hidupnya.

Hal lain yang dirasakan kurang dari buku ini adalah kisah cintanya dengan Suvat, sang istri. Fira Basuki kurang menggali dalam tentang kehidupan Suvat sebelum menikah dengan Wimar dan bagaimana pergulatan Wimar yang dalam bagian-bagian awal diceritakan tidak pernah pacaran, tapi ketika dalam perjalanan ke Amerika yang pertama berjumpa Suvat langsung cocok dan seketika memutuskan menikah. Apa raksi keluarga Suvat kala itu, misalnya, sama sekali tidak ditulis. Membaca bagian ini seperti melompat dari pembukaan langsung ke kesimpulan. Semestinya kalau Fira Basuki tidak suka menulis soal politik, mungkin ia akan lebih baik menulis soal kisah cintanya Wimar.

Hal Wimar dipenjara karena aksinya yang tidak mendukung Soeharto setelah 12 tahun berkuasa juga tidak diceritakan banyak (Dituliskan di dalam buku Wimar dan teman-temannya memasang spanduk besar bertuliskan Tidak lagi mendukung Soeharto sebagai Presiden RI di depan kampus) . Semestinya bagian ini menjadi bagian yang sangat menarik. Bagaimana seorang Wimar yang notabene adalah salah satu bidan lahirnya Golkar sampai bisa dipenjara padahal pada saat itu Kang Rahmat, kakaknya yang terdekat adalah seorang anggota Parlemen, seperti halnya Sarwono Kusumaatmadja. Tidak ada in-dept interview dengan kedua orang dekat Wimar ini ikhwal mereka saat itu menyaksikan adik dan sahabat mereka ditangkap tentara. Mengapa mereka tidak mencegak tentara untuk tidak menahan Wimar, misalnya. Oke, mungkin Fira Basuki tidak suka menulis soal politik, tapi paling tidak Fira bisa menulis sikap dua orang sahabat Wimar itu atau sikap Suvat istri Wimar, perasaannya, kepanikannya, bila ada, kala sang suami ditahan militer. Lagi-lagi bagian ini tidak di-eksplorasi jauh.

Tapi, bagaimanapun banyak hal lain yang menarik juga. Meski saya rasa terlalu ringkas ditulis. Seperti bagian bertajuk Perempuan, Cinta, dan Cerita. Meski rasanya Fira menulis melompat-lompat ke sana kemari soal Wimar dan perempuan-perempuan yang pernah dekat dan berpengaruh besar dalam hidupnya.

Beberapa tahun lalu di Indosiar ada acara bertajuk Reuni. Acara itu menghadirkan sejumlah orang yang pernah bersekolah di SMA yang sama sekian lama dahulu. Pada salah satu episode-nya ditampilkan Reuni SMA 3 Bandung. Saya saksikan di layar televisi ada Wimar Witoelar bercampur dengan peserta reuni lainnya. Saya baru tahu saat itu kalau Wimar pernah terlibat dengan SMA 3 Bandung. Saya ikuti acara itu sampai selesai dan kemudian saya tahu bahwa Wimar pernah mengajar Fisika di SMA 3 Bandung. Hal ini terungkap dari penuturan seorang peserta reuni yang pernah nyontek kala ulangan mata pelajaran yang diasuh Wimar. Saat itu Wimar tertawa lebar hingga matanya menjadi sebentuk garis saja mendengar kisah lama yang dituturkan bekas muridnya.

Pengalaman Wimar kaya dan luar biasa. Saya rasa Wimar mesti menulis sendiri kisah hidupnya. Mungkin salah satu sahabat karibnya yang harus menulis, kalau Wimar tidak ingin menulisnya sendiri. Bagaimanapun orang seperti Wimar tidak banyak. Pandai menulis dan sekaligus enak kalau didengar sebagai presenter atau pembicara. Tidak pelit bicara dan humble.






Posted at 01:54 pm by husnayan

Syifa edli
January 10, 2008   06:34 AM PST
 
Kang yeye,menarik tulisanya.panjng tp ga bosenin.inspiring untuk sering menulis.
Salam,edli
dd
December 29, 2007   05:16 AM PST
 
mungkin ye, wimar tak mau berbagi hal yg dia rasa amat sangat pribadi apalagi mengenai istrinya....
gol
December 24, 2007   11:22 AM PST
 
jadi ingat,
saat baru 2 minggu saya berada di perth, wkt itu sy sedang kedinginan berjalan kaki menyusuri adelaide street di perth city. Tiba2 ada suara dari balik lobi hotel, orang itu berteriak "are you from indonesia, anda dari mana?" seketika sy dan teman sy menoleh ke arah suara itu.... surprise suara itu berasal dari mulut seorang wimar witoelar.....
Betapa low profile-nya beliau....... menyapa kami yg bukan siapa2....


 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry