Media internasional menulisnya sebagai pahlawan. Salah satu dari Pahlawan Asia abad 20. Penggemarnya memujanya sebagai manusia setengah dewa atau bahkan mungkin dewa itu sndiri. Sebagian menginginkannya ia sebagai Presiden, tetapi tampaknya ia tidak tertarik atau mungkin tahu diri bahwa jabatan publik itu tidak untuk seniman seperti dirinya. Sepertinya ia lebih tertarik menggaruk gitarnya seraya menyanyikan lagu-lagunyanya dengan suara serak khasnya, kadang lirih, kadang berteriak. kadang getir, tapi kadang juga garang. Ia bernyanyi di atas panggung atau di halaman belakang rumahnya yang lebih luas dari lapangan sepabola. Disaksikan banyak orang, disaksikan lebih banyak orang, Dielu-elukan dan diberi applause panjang. Dulu dan juga sekarang.
Dulu rambutnya gondrong, kumisnya lebat tak beraturan dan dengan telanjang dada ia mengacungkan telunjuk jarinya ke arah langit seraya berteriak lantang menyuarakan apa yang dianggapnya mengganggu kestabilan sosialnya. Ditudingnya pemerintah lalai, dicaci makinya wakil rakyat yang tidur di ruang sidang dan dinyanyikannya balada rakyat yang tertindas, tergusur dan teraniaya. Mewakili suara mereka, menyeimbangkan jiwanya yang terusik.
Tapi, kini ia berbeda.
Saya menemuinya beberapa kali sepanjang bulan ini, ia tampak seperti singa tua. Sinar matanya sedikit redup. Tampaknya ia sudah lama tidak mengaum. Mungkin jiwanya sudah seimbang kini dan lagu-lagunyapun tidak lagi galak. Tidak lagi menggonggong kepada pemerintah atau sesuatu yang disebutnya penguasa. Bukan karena penguasa hari ini tidak membeli pesawat tempur, bukan karena penguasa hari ini tidak menaikkan harga BBM yang menyebabkan rakyat kecil sulit membeli susu untuk anak-anaknya, tapi, mungkin, karena hal lain. Kini lagu-lagunya seperti kucing rumah, mengeong. Lembut seperti bulu si manis. Sedap mengelus-elus kuping anak muda masa kini yang tidak pernah membaca novel Topaz : Sang Guru. Lagu-lagu yang ditulis anak muda yang juga bintang seperti dirinya. Pendeknya Sang Pahlawan bukan lagi anak nakal yang orde penguasa ingin menjewer kupingnya agar ia diam. Sang Pahlawan hari ini adalah penyanyi lagu pop yang berdendang untuk menambah luas tanah tempat tinggalnya karena 'saya ingin membuat kerajaan kecil yang sesuai dengan nurani saya', tuturnya suatu sore di ruang tamunya yang luas dan apik dan bernyanyi untuk 'ada limapuluh orang bekerja mengurusi tanah ini dan setiap dari mereka butuh makan, seperti juga saya', ujarnya masygul.
Tapi, meski mengeong ia masih macan panggung. Namanya masih diteriakkan oleh fans fanatiknya dengan semangat yang lebih besar dari semangat perjuangan '45. Tapi, kini suaranya lirih saja. Menyanyikan bait-bait cinta kepada kekasih dan gadis pujaan. Tidak menyuarakan jeritan rakyat yang rumahnya dibongkar paksa, tapi merapal syahdu rintihan seorang pemuda yang pacarnya lari dengan laki-laki lain. Tidak tentang anak kecil yang kuyup berjualan surat kabar di persimpangan ramai, tapi tentang ketegaran dan kemegahan seorang gadis yang membuat perjaka jatuh hati setengah mati dan setengah mati pula patah hati karena perempuan itu lari.
Mungkin macan di dalam dirinya telah lupa bagaimana dulu ia mengaum.